Posted by: tfrisya | December 22, 2009

Tari Rantak

Tari Rantak

Tari Rantak merupakan salah satu kesenian budaya Minangkabau. Tari Rantak yang berkembang di dalam masyarakat ada beberapa nama tarian :

1. Tari Rantak Kudo Pesisir Selatan (karya : NN)

2. Tari Rantak Gusmiati Suid

Tari rantak point kedua merupakan karya Almh. Gusmiati Suid. Bundo Gusmiati Suid dalam perjalanan kreatifnya, sangat sadar bahwa tampilan Minangkabau dalam tari, terletak pada penguasaan pamenan yang berdasarkan pancak. Ia menekankan bahwa penguasaan bentuk-bentuk tari tradisi sebagai bahasa karya baru, semestinya diikuti dengan penguasaan pencak. Bahkan bagi Gusmiati Suid, pencak tidak hanya harus dilakukan secara teknik, tetapi juga dipahami dalam konteks filosofinya. Karena tari Minang umumnya mempunyai gaya dan teknik gerak yang identik dengan pencak silat Minangkabau, yang mana dalam pencak silat itu terdapat beberapa teknik yang harus dikuasai oleh penari Minangkabau, seperti :

  1. Tagak – Tagun
  2. Ukua Jo Jangko
  3. Pandang Kutiko
  4. Garak-Garik
  5. Raso-Pareso

Tagak – Tagun

Tagak (tegak) secara harfiah hanya berarti berdiri, tetapi “tagak” dalam permainan pencak silat dan juga tari dapat diartikan melakukan tarian seperti lazimnya dikatakan Mambao Tagak (melakukan tarian) sedangkan Tagun (berhenti atau merenung sejenak sebelum memulai pekerjaan) hubungan dua kata tagak tagun dimaksudkan untuk mengungkapkan kemampuan dasar atau kemampuan awal penari Minangkabau.

Ukua  Jangko

Ukua Jo Jangko (ukur dan jangka) adalah dua kalimat mempunyai satu makna yaitu ketepatan melakukan sesuatu sesuai dengan ketentuannya. Istilah ini dimaksudkan agar penari mampu melakukan gerak secara teknik dengan sempurna, tetapi belum terlalu menuntut kemampuan penafsiran dan pengekspresian terhadap tarian yang mereka sajikan.

Pandang Kutiko

Pandang secara harfiah diartikan melihat, tapi dalam silat diartikan sebagai pemahaman, penafsiran dan persepsi terhadap sesuatu. Sedangkan Kutiko (ketika, saat) yang artinya ketepatan terhadap pemahaman, penafsiran dan persepsi pada sesuatu. Pada level ini penari dituntut mempunyai kemampuan untuk memahami tarian yang ia lakukan secara sempurna dan benar.

Garak-garik

Garak (Firasat) merupakan kepekaan dan keahlian seseorang terhadap sesuatu yang sedang dan akan terjadi. Sedangkan Garik (gerak). Istilah Garak-Garik di Minangkabau diartikan kemampuan seseorang melakukan sesuatu secara teknis dan non teknis. Hal ini dimaksudkan penari pada Garak-garik dituntut mampu melaksanakan secara teknis dan juga punya kepekaan dan ketepatan rasa dan ekspresi terhadap tari yang disajikan.

Raso-Pareso

Raso (rasa) Pareso (periksa, koreksi).

Dalam budaya Minangkabau Raso Peraso dua kalimat yang mempunyai satu makna, yaitu menyimpulkan tentang sikap dan perbuatan berdasarkan pikiran dan perasaan. Pepatah Minang mengatakan “raso dibaok naiak pareso dibaok turun” ketika itu terjadi pembauran antara raso dan peraso (pikiran dan perasaan)

Sumber : dari beberapa sumber

About these ads

Responses

  1. da klau dapek tolongan sinopsisnyo ciek, ntuak tugas skola.. hehe

    • tarimokasih kunjungannyo ka blogs ambo..
      sampai kini agak susah mangumpuakan sinopsis yang sasuai jo tari Rantak tapi Insyaallah dlm waktu dakek ko ambo mausahokannyo update scr umum…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: