Posted by: tfrisya | March 11, 2010

Permainan dan Kesenian Masyarakat Nagari Minangkabau

Anda pasti pernah mendengar permainan seperti Play Station (PS),Nitendo, Games pada gadget canggih yang biasa anda dan keluarga gandrungi saat ini. Namun jauh sebelum era modernisasi itu ada, berbagai daerah di seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia memikili permainan khas daerah masing-masing.  Seperti halnya daerah lain, Minangkabau juga memeliki permainan rakyat yang biasa dimainkan oleh tua dan muda. Namun perkembangannya pada era sekarang ini mengalami kemunduran yang mengakibatkan banyaknya generasi muda / anak-anak kita tidak lagi mengetahui permainan rakyat warisan leluhur kita terutama yang ada di Nagari Minangkabau yang sesungguhnya mengajarkan sisi pendidikan disetiap aturan main permainannya.

Pada ulasan kali ini, mari kita segarkan kembali ingatan kita bersama terhadap ragam permainan rakyat Minangkabau, agar tetap lestari dan tetap diminati oleh masyarakatnya.

1. Silat / Pencak Silat

Silat merupakan seni bela diri tradisional Minangkabau yang bertujuan untuk membela diri. Pesilat disebut dengan Pandeka (Pendekar) dan mempunyai aturan main tersendiri ” Musuah indak dicari, jikok basuo pantang diilakan” (musuh pantang dicari, namun apabila  ada maka tidak akan dihindari)

2. Randai


Randai adalah seni teater ala Minangkabau yang memiliki berbagai macam peran dan nyanyian pengiringnya. Dalam Randai juga mengunakan tarian dan seni silat dalam olah gerak para pemainnya. Permainan Randai dilakukan dengan membentuk lingkaran kemudian melangkah kecil-kecil secara perlahan, sambil menyampaikan cerita lewat nyanyian secara bergantian, dengan diselingi gerakan tarian disetiap interval cerita. Semua gerakan randai dikomandoi oleh aba-aba salah seorang pemain randai yang biasa disebut Janang.

Berbagai gerak dalam Randai

Cerita Randai biasanya diambil dari cerita nyata kehidupan bermasyarakat. Randai bertujuan sebagai seni pertujukan/hiburan, menyampaikan pesan moral, nasihat dan pendidikan.

3. Bakiak

Bakiak” sebenarnya permainan tradisional anak-anak di Sumatera Barat. Orang Minang kelahiran hingga pertengahan 1970-an biasa memainkannya dan ketika acara 17 Agustusan mengikuti perlombaan di desa atau kecamatan. Tapi anak-anak kelahiran setelah itu hampir tidak mengenal lagi, karena jarang digunakan.

Tahun lalu pernah dipamerkan aneka permainan anak-anak tradisional di Museum Adityawarman, Padang. Dua anak laki-laki yang berkunjung memegang dua belahan batok kelapa yang dikaitkan dengan seutas tali. Lalu mereka masing-masing memasang ke telinga dan mulut, menjadikannya sebagai mikrofon kaleng.

Kedua anak itu tidak tahu itu adalah terompah batok kelapa, tapi mereka jadikan telepon. Padahal, permainan tradisional itu sebenarnya dulu biasa dimainkan anak-anak di Sumatera Barat dengan nama ‘tarompa galuak’.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: